Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Monday, May 29, 2017

Bebas



Desir angin malam sayup-sayup terdengar dari celah jendela kayu di sisi tempat tidur. Sedikit kulebarkan daun jendela hingga terbelai pori-pori wajahku. Begitu kejamnya dingin, menghempaskan kalor yang berpindah dari segelas kopi panas, melayang ke sembarang arah, menyisir setiap massa yang dapat ia tinggali.

Betapa aku menikmati kejamnya kali ini, begitupula seringai tajam dibalik semak yang biasanya membuatku bergidik. Bulan sabit tergantung manis di sudut lukisan malamku, cahaya redupnya memantulkan objek di bawahnya dengan elegan. Dalam ruang pikiranku, di bawah temaramnya kekasih bintang, seorang wanita bergaun hitam berlari di kebun halaman tetanggaku yang luas. Rambutnya tergurai panjang, hitam mengkilap, dihiasi bandana berbulu hitam di ujungnya. Kulukiskan ia sedang menatap seekor rusa. Sambil tersenyum. Ah bukan, menyeringai.
Ada sesuatu di balik seringainya.

Digenggamnya suatu benda runcing berkilap. Pantulan cahaya itu menonjolkan si gadis dalam bingkai lukisan, membuatku semakin penasaran. Ditikamnya rusa malang dengan benda itu. Darah berkucuran dari bagian perutnya. Sambil menahan sakit, hewan itu tergopoh-gopoh berlari menghilang memasuki semak. Wanita itu mengikutinya perlahan. Lalu menghilang.

Sayang sekali, padahal aku masih ingin lihat. Bahkan tokoh dalam imajinasiku sendiri pun tidak mau menuruti keinginanku. Malam menuju pagi itu diakhiri dengan jendela yang masih terbuka dan aku yang terlelap kemudian masuk angin.

***
Kubuka kembali jendela pada malam berikutnya. Menyiapkan alat lukisku: secangkir kafein, angin malam yang romantis, dan kanvas langit. Kali ini bintangnya banyak.

Sembari menanti si gadis misterius, pikiranku melayang-layang. Pria malang adalah aku di mata kebanyakan orang. Dilahirkan bergelimang harta, membuatku lupa bahwa rasa cinta ialah yang mewarnai dunia. Tumbuh bersama benda-benda mahal meyakinkanku kalau uang adalah sahabat sejati.

Sesungguhnya Tuhan menyadarkan manusia dengan berbagai cara. Padaku, caranya adalah menarik segala sumber uang. Bapak ditangkap polisi. Ibu meninggal karena stress. Aku ditinggal tanpa menyisakan uang serta ilmu yang seharusnya kupelajari di kelas-kelas bisnis mahal yang dibayar bapak. Yah, saat itu nongkrong di apartemen sambil nyabu lebih menarik daripada bagan berwarna-warni dan profesor yang membosankan. Percayalah, bagi orang sepertiku, kehabisan uang adalah neraka terpanas.

Pada sesap kopi ke sembilan, ia menampakkan diri. Kali ini lebih dekat. Aku bahkan bisa melihat warna matanya.

Hitam pekat, selaras dengan bandananya. Wajahnya manis, dengan hidung bangir dan alis mata tegas. Kulitnya putih pucat. Tapi, ada sesuatu yang paling membuatku jatuh cinta. Sorot mata itu. Kosong, seperti yang terasa di dalam hatiku. Atau seluruh hidupku.

Kunamai ia Mary. Karena memang cocok.

Mary yang kulihat saat ini sedang menutup lubang di tanah. Dengan cangkul yang kurasa terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Aku pun bertanya-tanya dari mana tangan mungil itu mendapat energi untuk mengangkat gagang kayu itu.

Ada sedikit rasa ingin berinteraksi dengannya. Sepatah kata hai mungkin bisa membantu, namun lidahku lunglai sementara mataku sibuk terkesima dengan pemandangan lukisanku sendiri.
Ah sudah jam empat. Aku tidur dulu ya, Mary.

***
Setiap malam di minggu ini, aku terus melakukan hal yang sama. Membuka jendela kamar untuk menyaksikan Mary. Banyak hal yang dia lakukan. Terkadang dia bermain dengan boneka kecilnya. Kadang dia berburu lagi. Meski hanya menatap dari kejauhan, tak pernah bosan aku menjadi penonton setianya.

***
Malam ke dua puluh enam di bulan April. Mulailah aku mengerjakan ritualku. Dinginnya masih seperti biasanya, namun yang berbeda adalah kali ini lebih dingin. Juga disertai bau tanah basah. Sisa hujan sepanjang hari.

Kali ini ia tak berlama-lama sembunyi. Tapi sekarang ia hanya terduduk membelakangiku, menatap bintang-bintang. Aku merasa inilah kesempatanku untuk menyapanya.

“Hei. Hei,”. Ia tidak bergeming. Aku merasa sedikit bodoh. Bukankah ia hanya bayanganku saja? Bagaimana mungkin aku berbicara dengannya? Tapi, mungkin saja sebenarnya dia nyata, kan?

“Mary!” panggilku. Kali ini ia menoleh! Aku menyuruhnya mendekat menggunakan isyarat tangan. Tak lama dia menghampiri sisi jendelaku. Menatap wajahku dengan wajah pucatnya. Diam saja.

“Kamu manis,” ujarku. Dari sekian banyak pertanyaan yang bisa kusebutkan, mengapa malah gombalan yang keluar dari bibirku?

Seulas senyum tersunging di bibirnya. Namun tidak pada matanya. “Kamu nampak sedih,” bisiknya. Suara Mary terdengar seperti suara gadis usia dua puluhan pada umumnya, tapi terlalu datar.

“Iya, begitu banyak masalah menimpaku. Aku tidak punya uang maupun pekerjaan. Kesehatanku tidak begitu baik. Pacarku hanyalah gadis malang yang tidak kucintai. Keluargaku tidak bersisa. Dan kamu tahu apa yang paling parah? Aku tidak punya tujuan. Hidupku tidak bermakna,”

Mary mengulurkan tangannya untuk akhirnya kusambut. Tangannya sedingin es batu. “Percayalah, kamu bukannya sia-sia ada disini. Buktinya, kamu bisa menciptakan aku. Kamu seperti malam. Tidak menyadari keeksisannya sendiri, namun ia akan tetap ada dan dinanti seseorang.”

“Memangnya, siapa yang menantiku?”

“Aku,” ujar Mary. “Setiap malam aku menunggumu di ujung halaman. Kemarin, saat kau tidak disini, aku sungguh kecewa,”

“Kamu menyadari keberadaanku disini?”

“Tentu saja,”

“Maaf, aku terus-terusan menatapmu,”

“Tidak masalah, sayang. Aku milikmu,” merekahlah senyumnya. “Maukah kau menari denganku disini?”

“Tentu saja,” jawabku tanpa ragu. “Tapi.. bagaimana caranya?”

“Ada satu hal yang perlu kamu lakukan,” bibirnya mendekati telingaku, membisikkan sesuatu yang membuatku bergidik.

***

Butiran tablet putih yang berserakan tumpah dari botol adalah objek pertama yang kulihat begitu memasuki kamar Tommy. Di sampingnya, tepat di depan jendela yang terbuka, tergeletak tubuh kekasihku itu. Napasku tertahan bersamaan dengan munculnya rasa mual di perut. Aku berlari secepat mungkin untuk memeriksa tubuh milik pria yang paling kucintai. Kepalaku terasa panas, sampai-sampai mataku berair.  Gemetar tanganku meraih ponsel, menekan tombol ambulans.

***
Kegelapan yang berlangsung begitu lama akhirnya berakhir. Cahaya samar memasuki celah mataku. Inikah kematian? Tempat aku bisa bersemayam selamanya bersama Mary. Tidak terasa begitu buruk seperti yang orang-orang bilang.

“M-mary?” bisikku ketika tertangkap bayangan buram sesosok wanita yang tengah duduk di sampingku.

“Sayang!” jawab sosok itu. Tak lama pandanganku menjelas. Bukan Mary, masih Marsella. Wajahnya begitu merah, apalagi matanya. Sepertinya ia habis menangis semalaman. “Mengapa kamu melakukannya?” ia terisak lirih.

“Ah... aku masih hidup ya,” aku sedikit kecewa. “Apa yang terjadi?”

“Aku menemukanmu meminum banyak obat migrain di kamar. Untung kutemukan belum lama, jadi dokter masih sempat menanganimu, sayang,” Marsella mengusap dahiku lembut dengan tangannya. “Jangan tinggalkan aku,”

“Kenapa? Aku ingin mati. Kenapa kamu menghalangiku, hah?!” bentakku tanpa sadar. Ia nampak tersentak. “Kau pikir aku menikmati hidupku? Kau pikir masih ada alasan untukku hidup?!”

“Aku bisa jadi alasan untukmu hidup, sayang,”

“Sudah kubilang dari dulu, kau tidak perlu bersamaku lagi! Keberadaanku juga hanya menyulitkanmu, menambah biaya hidupmu. Kalau aku mati kamu bisa hidup tanpa beban. Mengapa sih tidak pernah dengar? Lagipula aku sudah tidak mencintaimu!”

Marsella terdiam. Mata gadis cantik itu berkaca-kaca, namun jelas ia menahannya dan berusaha tersenyum. “Ssst. Kamu jangan teriak-teriak. Makan dulu ya? Aku buatkan bubur,”.  

Dengan kasar kulempar mangkuk berisi bubur hangat itu. Mataku terasa panas. Jantungku berdegup kencang penuh amarah. Tanganku gemetar tak karuan sementara kakiku berusaha mencari pijakan. Lari! Hanya itu yang ada di pikiranku.

Bantingan pintu terdengar dari arah belakang, sementara mataku sibuk mencari tangga. Lari! Lari! Puncak tertinggi adalah tujuanku. Aku mau terbang.

Napas cepat mengiringi pengejaranku akan puncak gedung ini. Hingga sampailah pada ruang luas dengan sapuan angin pada pipiku yang pucat. Bentangan hitam! Begitu pekat, tanpa awan ataupun bintang-bintang. Ini pastilah takdirku untuk bertemu dengan Mary. Terima kasih semesta, kini sudahlah datang waktuku.

Dengan mengerahkan sepenuh tenaga, kuhentakkan kakiku sekeras mungkin, mengejar bayang-bayang Mary yang kian jelas di hadapanku. Tunggu aku Mary! Bawa aku terbang bersamamu.

Dan melayanglah kami, melintasi kejamnya malam, malangnya hidup, dan busuknya dunia.

Aku bebas.
           
           


A Bitter Sip of Coffee to Start Her Day





"Good morning!" she says that to herself as she stretches her body, still on bed.
Here is another morning.
This is one of those kind of morning she always hate, but she bets she got used to it already.
The girl opens a thin curtain and a window besides her bed; to let the ray of the sun make an entrance into the whole room. Enlighten her  baby blue walls with such a warm light.
Back there outside the window, an image of a broad landscape; with soft blue sky, a slow paced flow river, neighbor houses and some old people, shows up. Sounds of birds waft out through the narrow spaces  of the window.
She smiles. She loves it. Especially when the fresh air touch her face.
Nothing wouldn't ever beat this morning view. Its beauty just feels pure and sincere, she thinks.
That was actually how she depicted people who were being nice to her.
She thought they expected nothing from her. Like the birds who sing beautifully for the world, without asking for any feedback.
No, they didn't, she mumbles. Not all of them.
She used to think that meeting people and simply being friends was that easy.
She used to think when a guy care for her so much, it meant he loved her not because she made him pleased, but because she was just her.
Then God finally showed her how hurt she could be if she were way too naive.
This is a cruel world. With cruel people who seems nice.
It's hard but she gotta accept that fact.
And several hours later, the beauty of her morning will fade.
Also, the morning will shift itself to a situation when people starts whinning, being mad to everything and hurting each other.
She moves herself to the kitchen, going to make a glass of espresso.
She wants a bitter sip of coffee to start her day.

Friday, April 14, 2017

Pijaknya Sirna

Sumber gambar: Yana Moskaluk

Puing-puing sukma
Setelah lepasnya dari raga
Menggerayangi awan kelabu
Melayang pilu

Petir menyambar-nyambar
Elektron berpencar
Lamunanmu terbuyar
Ingin berpijak, tak sabar

Tidak bisa
Ragamu membusuk,  dimakan rayap
Di tengah kuburan senyap
Tangis tak lagi ada,  di balik wajah tercinta

Pilu sahabat telah lenyap,  dimakan sangkala 
Batinmu tersiksa mencari persona
Yang dulu dibuatmu merana
Yang sekarang tengah berpesta
Hilangmu adalah gembiranya

Sudahlah, lupakan
Kau tak lagi berguna
Hanya kumpulan atom yang tercerai-berai
Bergerak tanpa makna
Dalam lautan semesta

Monday, March 13, 2017

Serban Putih



Birama kendang mengiringi pujian-pujian untuk Tuhan.
Sekumpulan umat putih-putih memejamkan mata, menyesap kata demi kata.
Seperti layaknya pedagang kaki lima menikmati kopi sachet lima ribuannya.

Bukanlah hal mewah,  namun begitu berartinya.
Merasakan keagungan Sang Maha Segalanya. 
Getar partikel Tuhan di dalam dadanya. 
Mengalirkan rasa hingga menetes air matanya. 

Serban dan gamis melilit tubuh
Agar tertanda imannya tak rapuh
Sungguh indah cintanya pada Tuhan
Suci bersih seputih kafan

Memang benar miliknya itu, 
Kasih polos bagai seorang gadis
Hingga rela disuruh sadis
Saudara sebangsa dilibas habis

Padahal,  Tuhan meminta damai
Ingin kita selalu santai
Mengingatkan dia yang masih lalai
Bukan menyakiti beramai-ramai

Prihatin kami dibuatnya
Ketulusan dipakai yang ingin kuasa
Afeksi dicoreng hajat golongan
Persatuan berakhir kiasan

Serban ini tadinya murni
Atribut bangga akan nurani
Tapi kini ia menjadi
Kain putih si keras hati

Dia jangan disalahkan
Apalagi menuduh Tuhan
Yang berbeda juga bukan jawaban
Mengapa jadi banyak ancaman

Tak minta ada yang mengaku salah
Hanya perlu saling mengalah
Supaya kami kembali suka
Menghargai sesama saudara


-11 Maret 2017

Mengejar Angan



Berlari merengkuh
Mengejar terburu-buru
Lalu jatuh 
Tertabrak waktu

Sehari dua hari
Tiga hari empat hari
Terhalang hingga menempuh abad
Namun harapan tak kunjung dapat

Mungkin kamu bingung
Mengapa kerjamu tak kunjung rampung
Padahal sudah mendayung
Sekuat tenaga hingga terhuyung

Lupa menyergap
Dalam ruangan pengap
Disana ia tergagap
Dicaci bos yang kalap

Mulailah kamu bertanya
Mimpiku hilang kemana? 

Sirna jawabnya
Ditebas realita
Dicacah runtuhnya asa
Menguap bersama gelora

Kamu lemas
Lelah terperas
Aku gemas
Mengapa ia kandas


-11 Maret 2017

Wednesday, March 9, 2016

A Little Drabble for One Who Get Hurt

Source: Bluemagicat on weheartit

He wanted to break up with her. It might just about distance, but that thing did effect so much on their relationship.

“No... I can’t. I’m in love with you already. You cannot do this to me,” she sobbed a little. “Can’t we start over? I can change my bad habits. I’ll make you the first on my priority and meet you more. Can’t we just keep being a couple?”

“I don’t think so...” said that guy with a sad expression. He loved her so much, but there were things that didn’t turn out like it had to be. He was afraid that he might hurt her more if he kept going out with her. He thought he had to make a proper decision  “I love you, but... we can’t be together. There are many obstacles on our way that we can’t overcome them.”

“Not us, it’s only you! I love you, and I would do anything to keep being with you. But what you do is just throwing me away.. Please... don’t go, I am begging you,” she cried even louder. But there’s no hug or comfort she got like usual, only a sad look on his face.  Actually, he really wanted to sweep those tears off her face but he wouldn’t do that. It was for her own sake. He got to leave.

“We still can be friends. I’m still going to be here as your friend. If you need help, I’ll for sure be next to you. I promise,” the guy smiled to the girl as he patted her shoulder.

“You know that I love you. I always do. If you have to leave now, I am okay. But, you have to know that I’ll always wait for you here. You can come back to me anytime you want. I’m waiting,” the girl was still crying but she forced herself to say those words. It was really painful for her but there was nothing she could do anyway.

“Please, don’t wait for me. There is a better guy for you, I’m a bad person. You shouldn’t be with me,” That guy felt so sick hearing those words coming out from her mouth.

The girl didn’t respond. She thought there will be no one could ever replace him. Too much things she got from him. She remembered every comment and advice he gave her. He finally succeed turning an ugly duck to a pretty lady. Too many beautiful memories she got with him. The way he touched her cheek, the way he held her hand, the way he looked at her eyes... she couldn’t get rid of those beautiful memories.

That guy was irreplaceable for her. He was her world. He was her bestfriend, her brother, her best lover. She wouldn’t find him in anybody else. He was her one in a million guy.

Losing him would turn her passion down in anything she did. She couldn’t eat well, she couldn’t study well, couldn’t even sleeping well.

Every inch of her body, every point of her room reminded her of that guy. That perfume, that little teddy bear, that cute purple clutch; everytime she saw them, he came in her mind.

Deep inside her heart, she kept praying that the guy would be her forever lover. She wish God would set them up once again, and on that second chance, their puzzle wouldn’t be broken like this time.

That second time she wouldn’t mess it up. 


Nisrina Salma © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.