Showing posts with label personal life. Show all posts
Showing posts with label personal life. Show all posts

Sunday, March 14, 2021

Thrift Shop & Thrifting Baju: Hemat tapi Tetap Stylish (+Pengalaman Belanja)

 

Baru-baru ini, banyak thrift shop online yang bermunculan di Instagram. Gak sekadar jualan, mereka juga membangun komunitasnya masing-masing. Bahkan, gak sedikit akun thrift shop yang punya followers ratusan ribu!

Wajar aja, alternatif fashion ini memungkinkan kita dapat barang bagus dan branded dengan harga yang murah banget. Tren ini juga timbul dari concern terhadap masalah lingkungan akibat budaya fast fashion yang ngehasilin limbah tekstil.


Namun, sebenarnya konsep thrift itu sudah ada sejak dulu, lho! Hanya saja memang gak semua orang sering ngelakuin thrifting karena butuh tenaga dan waktu yang banyak.


Dalam artikel ini, kita bakal membahas tentang perbedaan thrift shop, thrifting, dan preloved, pengalaman aku belanja thrift shop, dan rekomendasi thrift shop. 

Apa itu arti thrift shop, thrifting, dan preloved?

Kata thrift diambil dari bahasa Inggris yang artinya pengelolaan uang secara hati-hati. Makanya, istilah ini dipakai buat menggambarkan jual-beli barang murah yang bikin hemat uang.


Nah, thrifting adalah kegiatan berbelanja barang bekas dengan tujuan mendapatkan harga yang sangat murah. Biasanya, barang bekas tersebut diambil dari luar negeri sehingga kamu bisa menemukan brand dan model unik.


Thrifting juga identik sama retro fashion karena baju yang kamu temukan dengan cara thrifting biasanya baju-baju model lama, misal tahun 80 atau 90an. 


Kamu bisa belanja thrifting ke beberapa pasar khusus baju bekas, seperti Pasar Gedebage di Bandung atau Pasar Baru dan Pasar Senen di Jakarta.


Sementara itu, istilah thrift shop banyak dikenal sebagai penjual yang mengkurasi dan memasarkan kembali barang hasil thrifting secara online maupun offline. Biasanya mereka menjual lagi dengan harga berkali-kali lipat di atas harga thrifting. 


Hal itu emang menimbulkan banyak kritik, tapi gak sedikit juga yang merasa terbantu dengan adanya thrift shop. Pasalnya, perjuangan thrifting ke pasar emang gak mudah. Kamu belum tentu dapat barang bagus meskipun sudah muterin toko ke sana sini.


Selain thrifting dan thrift shop, ada juga istilah sejenis, yaitu preloved. Nah, preloved adalah barang bekas pakai yang dijual sama pemiliknya langsung. Jadi, barang preloved relatif masih baru karena baru melewati satu siklus pemakaian saja.

Pengalaman belanja thrifting vs thrift shop

Aku sendiri sebenarnya sudah mengenal thrifting sejak SMA. Waktu itu, ada teman yang memang senang belanja ke Pasar Gedebage Bandung. Dia cerita bisa dapat crewneck Nike dengan harga Rp20 ribu aja!


Waktu itu aku ragu sih buat nyobain beli, karena khawatir kurang higienis dan malas datang jauh-jauh ke sana. 

Mulai thrifting

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 2019, seorang teman ngajak pergi ke Pasar Baru buat thrifting bareng. Wah, ternyata asik juga. 


Kita bisa dapat satu buah blus cuma dengan Rp35 ribu aja. Jaket-jaket juga murah banget, di kisaran Rp50 ribu sampai Rp100 ribuan. Kebayang gak, balik dari sana modal Rp200 ribu aja bisa dapet satu kresek!


Pulang-pulang aku rendam bajunya berjam-jam biar bakterinya hilang. Dan pas dipake aman-aman aja kok!

Nemu akun thrift shop online

Gak lama pas awal pandemi sekitar tahun 2020-an, konsep thrift shop online mulai ramai. Momennya juga pas banget sama pandemi yang bikin aku takut buat pergi ke Pasar Baru lagi.


Salah satu akun pertama yang aku tahu adalah @youpoppin di Instagram. Mereka emang niat banget sih, sampai punya tiga model khusus buat pemotretan pakai baju thrift.


Kurasi style-nya juga mantep banget. Mereka bisa maduin baju vintage jadi keliatan stylish ala-ala Pinterest. Aku pernah coba beli, tapi sayangnya kurang teliti lihat ukuran, alhasil ukurannya kebesaran haha. Tapi kalau dari bahan dan model keren banget kok!


Hanya saja kalau dari ukuran harga masih jauh lebih mahal dari harga di pasar. Waktu itu aku beli celana ya hampir Rp180 ribuan. Buat ngedapetinnya juga harus war, karena peminatnya banyak juga ternyata.

Setelah itu aku mulai cari akun-akun lain yang menarik. Ternyata banyak juga yang ngekurasi barang-barang branded kayak Nike, Adidas, Polo, sampai Burberry. Akhirnya ya aku mulai lah beli barang thrift di harga ratusan ribu itu.

Belanja di Carousel

Suatu saat, aku iseng-iseng buka lagi akun Carousel buat lihat-lihat. Aku emang udah lama suka jualin barang preloved-ku sendiri di sana. Tapi entah kenapa dulu belum tertarik buat belanja di sana.


Ternyata, di sana harga thrift shop yang dijual jauh lebih murah dari Instagram, meskipun masih lebih mahal daripada pasar. Aku bisa dapat blazer di harga Rp70 ribuan aja! Terus aku juga beli jaket harga Rp120 ribu.


Terus penjualnya juga beragam, ada yang memang pemilik thrift shop, ada yang memang suka jualan preloved aja kayak aku.


Uniknya, di Carousel kamu lebih leluasa buat nego. Karena emang ada fitur negonya. Jadi bisa kamu tawar lah sampai semurah-murahnya.


Cuma emang transaksi di sini beda sama Shopee atau Tokopedia. Kamu emang harus modal saling percaya aja karena langsung transfer duit ke rekening seller-nya. Tapi kalau khawatir penipuan, biasanya kamu bisa kok request buat transaksi lewat Shopee ke seller.

Tips belanja thrift shop

Berdasarkan pengalaman aku, aku kasih tahu beberapa tips belanja thrift shop biar gak gagal!

Tawar harga

Kebanyakan thrift shop di Instagram sebenarnya gak bisa ditawar, tapi kamu bisa coba belanja di Carousel biar bisa nawar. Namun, kamu juga harus ukur-ukur jangan nego afgan, alias sadis! Bisa-bisa bikin seller-nya bete dan kamu gak jadi dapet barangnya.

Perhatikan detail ukuran dan jenis bahan

Coba beli meteran baju gitu terus ukur badan kamu sendiri. Jadi, setiap mau beli celana, baju, atau sepatu, sesuaikan dulu ukurannya. Kalau gak tertulis di deskripsi bisa kamu tanya langsung ke seller.


Jenis bahan juga penting banget. Meskipun kelihatan di foto, ada baiknya kamu riset dulu bahannya kayak gimana dan apa cocok sama kebutuhan kamu, jangan sampai terlalu tebal atau tipis.

Tanya apakah ada defect

Berhubung baju thrift itu barang second, kadang-kadang emang ada defect atau sedikit kerusakan. Biasanya sih seller udah ngasih tau duluan di bagian deskripsi, tapi kalau belum ada, wajib kamu tanya ya!

Pilih seller dengan rating bagus

Belanja online kalau gak di marketplace emang harus hati-hati. Pasalnya, ada risiko kamu kena penipuan. Makanya khusus buat di Carousel, kamu harus pilih-pilih seller dengan ulasan yang bagus. Alternatifnya, bisa dengan minta transaksi lewat Shopee saja.


Itu pengalaman aku belanja thrift dan tips biar gak gagal. Semoga bermanfaat buat kamu yang lagi bingung ya!


Friday, June 8, 2018

Profesi Impian Sudah Tergapai, lalu Apa?


Menjadi seorang jurnalis adalah impian saya sepanjang menjadi mahasiswa. Begitu lulus, file pdf CV saya langsung bertengger di email-email HRD berbagai jenis media. Ada harian, majalah, media online, hingga televisi. 
Pokoknya mau jadi reporter dulu, soal jadi jurnalis apa, lihat saja nanti. Gaji kecil? Kehidupan keras? Saya siap, demi cita-cita. Begitulah yang ada di pikiran saya saat itu. 

Kalau keinginan kita kuat, pasti ada jalan. Memang itu sih yang nyatanya terjadi.  Berkat informasi seorang teman, saya melamar ke salah satu majalah bisnis yang usianya sudah terbilang tua. 

Selama melamar, meski dengan keinginan yang begitu kuat, saya tidak pernah berharap banyak. Karena harapan yang terlalu tinggi seringkali berlabuh pada kekecewaan. 

Melalui proses interview, tugas liputan, dan psikotes, akhirnya saya lolos. Saya yakin blog ini pun jadi salah satu referensi perusahaan untuk mempertimbangkan saya yang punya nol pengalaman.

Ekspektasi saya ketika masuk kerja adalah bakal mendapatkan training. Oh, ternyata tidak seperti itu sistemnya di sini. Saya dikirim langsung ke lapangan.  Liputan pertama saya? Bisa dibilang gagal sih. Haha. Untung terselamatkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari reporter lain. Saya sendiri tidak melontarkan satu pertanyaan pun.

Kok bisa gagal? Karena topiknya tidak saya kuasai. Undangan saat itu saya dapatkan cukup mendadak, jadi tidak punya waktu semalaman untuk riset. Topiknya sendiri adalah forex, dan narasumbernya seorang ekspatriat dengan aksen yang cukup sulit saya serap ketika itu. Maklum, sudah enam bulan nganggur jadi otak agak membeku. 

Alhasil saya berusaha keras untuk mentranskrip wawancara siang itu dengan sepenuh tenaga. Bermodalkan Google Search, akhirnya selesai juga artikel yang dibuat dengan penuh perjuangan itu. Oke, satu tantangan selesai. Meski begitu, saya merasa itu adalah kegagalan pertama saya. 

Tapi memang kekecewaan itu harus diubah jadi motivasi. Selanjutnya, harus lebih baik lagi. Saya pun mengingat-ingat apa sih kesalahan saya siang itu, supaya ke depan tidak terulang lagi.

Ini adalah bulan ketiga saya bekerja sebagai seorang reporter. Apa yang saya takutkan di awal tidak benar-benar terjadi. Pekerjaan ini menyenangkan sekali. Bukan, bukan karena ini passion saya. 

Untuk seorang fresh graduate dan profesi reporter, gaji yang ditawarkan lumayan. Ritme kerja pun tidak menyiksa, bahkan saya bisa mengerjakan proyek di luar pekerjaan tanpa saling mengganggu. 

Selain itu, benefit yang saya dapat dalam bidang improvement diri ada banyak. Pertama, banyak inspirasi dan ilmu yang didapat. Setiap hari saya bertemu orang-orang hebat, yang sukses di bidangnya, entah itu sebagai pengusaha, manajer, CEO, atau bahkan pedagang UKM. Mereka menginspirasi saya soal apa yang ingin saya lakukan dalam hidup, juga bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri. Lebih detail, akan saya ceritakan pada postingan-postingan berikutnya.

Kedua, relasi. Orang-orang tersebut tentu bisa jadi relasi profesional yang sangat baik. Meskipun sejauh ini skill komunikasi saya belum maksimal, saya berusaha terus buat sok asik dengan orang baru. 

Selama beberapa bulan ini saya terus berpikir. Lantas, kalau sudah jadi jurnalis, mau apa?

Ini yang belum saya pikirkan. Pikiran-pikiran saya masih bercabang untuk rencana ke depan. Cabangnya itu ya ke bidang bisnis, yang ternyata menarik juga. Inspirasi ini pun saya dapatkan selama menjalani liputan. 

Cabang lainnya adalah lanjut terus jadi jurnalis yang sesungguhnya. Yang sudah tidak mengandalkan rilis untuk menulis berita. Yang melakukan risetnya sendiri dari nol sampai jadi sebuah berita.

Atau jurnalis petualang, yang menyusuri daerah-daerah konflik, atau hutan hujan tropis di Indonesia Timur, sampai melanglang buana di padang sabana Afrika. 

Kedua cabang itu mau saya pelihara dulu, sama-sama dipersiapkan sambil jalan. Sambil mengikuti online course soal bisnis, saya juga sedikit-sedikit belajar travelling sendiri, fotografi, juga perdalam ilmu jurnalistik.

Kenapa tidak? 

Kalau mengutip kata Bapak saya, "Kamu bisa jadi banyak hal. Kami bisa jadi jurnalis yang juga seorang konsultan bisnis. Toh Leonardo Da Vinci juga bukan hanya seorang pelukas, tapi juga ilmuwan." 

Apapun itu, yang pasti harus bermanfaat buat masyarakat. 

Monday, February 5, 2018

Melalui Quarter-life Crisis dengan Elegan


Tahun ini saya bersama anak-anak kelahiran 1995 memasuki usia 23 tahun. Kebanyakan dari kami sedang memegang status fresh graduate, baru lulus dan masih seger-segernya.

Awalnya saya pikir kehidupan setelah lulus akan membahagiakan. Gak ada  tugas, gak ada beban skripsi, dan punya titel sarjana di belakang nama.

Ternyata oh ternyata, saya salah besar. Ada banyak beban tak tertulis menanti di ujung toga wisuda. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan setiap kali ngelamun sedikit aja.

Bukan, bukan lagi pertanyaan sejenis nanti-malam-mau-makan-apa atau besok-mau-nongkrong-di-mana. Pertanyaan yang muncul sungguh berfaedah. Intinya sih, mau dibawa ke mana hidup saya?

Ini yang disebut quarter-life crisis atau krisis di seperempat hidup. Kecemasan soal memasuki dunia nyata dan bagaimana hidup sebagai orang dewasa mulai muncul di periode ini.

Usia dua puluhan adalah jembatan antara penyesalan karena salah milih jurusan dengan cabang untuk bertemu pilihan baru yang risky. Kita semua tahu, setiap pilihan yang dibuat akan nentuin hidup kita ke depannya. Kebanyakan sih tiga poin besar yang bikin anak 20an galau banget. Karir, cinta, dan tujuan hidup.

Soal karir, saya sendiri lagi masih bertanya-tanya. Apakah perlu saya mengejar passion, atau mengejar uang dulu sambil mengesampingkan passion? Selagi saya kelamaan mikir, teman-teman di luar sana udah start duluan.

Mungkin gak cuma saya doang yang ngalamin ini. Saya gak jarang sibuk melihat teman-teman yang karirnya udah lebih maju duluan. Melihatnya, motivasi tentu muncul. Lebih kuat dari sebelumnya. Namun, yang saya takutkan adalah pengambilan keputusan yang terburu-buru karena ingin cepat-cepat mulai juga.

cr: Janna Fong
Tapi, ketahuilah, hidup itu bukan kompetisi, kawan.

Setiap garis hidup ada porsinya masing-masing. Mungkin sebelum jadi miliarder, saya dan kamu harus ngegembel dulu bertahun-tahun. Mungkin sebelum bisa beli gedung perkantoran kaya Hotman Paris, kita emang perlu tidur beralaskan koran dulu di depan Alfamart.

Soal cinta, saya sudah skeptis soal itu. Dengan beberapa pengalaman buruk di masa lalu, I realized I'm not a family girl nor a relationship girl. Saya merasa lebih bahagia ketika sendirian, sampai berpikir untuk tidak menikah. Pasti banyak diantara teman-teman satu generasi yang merasakan hal sama.

Kegamangan saya soal cinta bentuknya lagi-lagi kumpulan pertanyaan. Apakah kalau saya memutuskan untuk tidak menikah, penyesalan gak akan muncul? Bagaimana kalau saya berubah pikiran di usia 35 ke atas? Bagaimana saya mengatasi kesepian?

Tujuan hidup lah yang sebenarnya jadi penentu buat dua poin sebelumnya. Nilai ini yang terus-terusan kita pegang dan bakal berpengaruh sama pilihan karir dan cinta.

Tujuan hidup manusia intinya ya jadi bahagia. Definisi bahagia ini macem-macem dan gak sesederhana keliatannya.

Gimana sih cara mendefiniskan kebahagiaan?

Dalam diskusi bersama seorang teman, saya mendapatkan pencerahan. Menurutnya, sebelum kita bisa mendefinisikan kebahagiaan, kita perlu mendefinisikan diri sendiri dulu. Seseorang bakal kebingungan dengan apa yang dia inginkan saat masih belum menemukan dirinya sendiri.

Menemukan diri sendiri gak mudah. Beberapa orang sudah menemukannya di bangku sekolah. Sebagian lain masih harus bertualang menjamah setiap sudut kehidupan supaya bisa dapat jawaban.

Pelik juga ya?

Ya memang.

Tapi, percayalah. Di posisi manapun kamu mengalami quarter-life crisis, mulailah berpikir kalau sekarang kamu baru mulai. Jangan ngarep dapet hasilnya buru-buru. Seperti kuwot di bawah ini:

cr: on pic

Terus Nis, gimana cara melalui quarter-life crisis dengan elegan?

Jalani dan nikmati, kawan.

Saturday, July 2, 2016

Becoming A Geek?

Sedikit cerita dan 'pesan moral'nya 

Akhir-akhir ini aku ngerasa semakin kesini, semakin aku ngerasa kosong, dimana teman dekat tak lagi sedekat jaman sekolah, keluarga sibuk dengan kegiatan masing-masing, kegiatan organisasi sudah berkurang dan akademik gak sesibuk semester awal. 

Dengan keadaan ini, aku berpikir kalau ini lah saat yang tepat untuk mengeksplor diri, mencari hal baru, ngembangin hobi, mencari lebih banyak teman dan relasi. Aku masih muda dan belum sibuk.

Banyak hal baru yang mulai aku lakuin mulai dari belajar bahasa Spanyol (yang sampai saat ini belum lanjut), belajar main Bridge (di UKM Unpad), belajar main gitar, ikutan beladiri baru, ikutan kopi darat berbagai komunitas di internet, dan banyak hal lain yang akan aku lakukan.

Selain hal yang disebutkan diatas, aku selingi dengan baca novel-novel thriller (yang menjadi favorit aku di masa-masa semester 6), marathon serial barat, chit-chat sama beberapa virtual friends.
Sampai pada saat dimana aku ketemu temen di satu komunitas yang hobi baca buku non-fiksi. 

Aku pernah jadi seorang book-geek yang hobi baca dan belajar waktu SMA (yang berbuah hasil bagus secara akademik). Konten yang aku baca seputar ilmu sosial (filsafat, ekonomi, politik, sejarah, dll.) yang baru aku baca kulit-kulitnya aja.

Ketika bertemu teman yang juga senang membaca buku non-fiksi, aku cukup terpacu untuk kembali meneruskan hobi membacaku (yang sempat terhenti selama masuk kuliah) setelah berdiskusi mengenai berbagai topik dengannya. 

Dia merekomendasikan aku beberapa buku menarik yang meskipun belum aku tamati, memberikan semangat baru bagiku untuk mulai membaca lagi.

Aku tipe pembaca non-fiksi yang gak langsung namatin satu buku-satu buku, tapi membaca beberapa buku dalam satu waktu secara bergantian (maklum, bosenan :p). Saat ini aku sedang membaca beberapa buku sejarah dan biografi, serta filsafat. Buku-buku ini memberikanku banyak sekali pandangan baru, informasi baru serta pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya gak pernah muncul di kepalaku (karena sibuk galau :p).

Aku berpikir membaca novel memang menyenangkan, namun membaca non-fiksi sungguh dapat melatih otakku untuk terus bertanya, berpikir terus, namun tetap terbuka terhadap segala pandangan baru. Aku dapat merasakan sudut pandang baru, bahkan sudut pandang orang yang selama ini aku anggap sangat berdosa. 

Saat-saat menjadi geek memang hal-hal paling indah dalam hidupku. Tidak perlu bergantung pada orang lain untuk mengatasi kebosanan, atau kesepian. Dengan buku-buku, pikiranku tak pernah sepi. Tak ada ruang dalam otakku untuk merasa kesepian, karena kepalaku selalu ditemani pertanyaan-pertanyaan, throwback sejarah, hingga imajinasi-imajinasi.

Hal ini tentu sangat membantu seorang yang sangat sulit mendapat banyak teman sepertiku untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif akibat kurangnya interaksi dengan orang lain.

Well, it turns out that being a geek isn't that bad at all. 

Tuesday, March 29, 2016

Making New Friends is Fun!

Dunia perkuliahan yang telah aku jalanin selama tiga tahun ini, banyak banget ngasi pembelajaran buat aku.

Selain di bidang akademis, aku juga ngerasa dapat pembangunan karakter diri dari kampus. Aku jadi orang yang jauh lebih 'keren'. Darimana dapatnya? Organisasi, teman-teman kampus, komunitas, bahkan seminar motivasi atau leadership yang diadain kepanitian kampus pun berperan penting.

Contoh kecilnya adalah perbandingan di jaman aku SMA dengan sekarang. Ingat 4 tahun yang lalu, ketika aku masih pakai putih abu, aku ikut acara sebuah komunitas Running Man di Bandung. Ya, Running Man yang itu. Dulu di Bandung ada yang bikin gathering dan main game rame-rame. 
Seru sih, tapi dulu aku sangat kesulitan berinteraksi dengan orang baru. Dan itu menjadi kendala yang bener-bener menganggu. 

Setiap masuk ke lingkungan baru, aku yang dulu selalu diam diri. Gak bisa nyesuain diri, dengan lingkungan apapun. Aku gak punya kepercayaan diri buat sok deket atau bahkan nunjukin diri aku di hadapan 'calon-calon teman' itu. Takut penolakan, takut dicuekin, takut dianggep freak, dan sebagainya. 

Aku masih dibayangin kehidupan SMP yang penuh sinisme dan looking-down at people trend. Yes, my middle-school's life was horrible. I had been bullied verbally by people around me. Kenapa? Mungkin aku yang dulu freak, beda sendiri, hobinya geek abis, aku item, kurus, jerawatan gak ngerawat diri. ((Yaiyalah, masih SMP juga, masa bocah kudu dandan centil -..-))
Meningat pengalaman di SMP, aku dulu selalu berpikir kalau orang-orang baru itu mengerikan, dan bakal 'nolak' aku di lingkaran sosial mereka. 

Aku pun di masa-masa awal perkuliahan masih cupu banget. Aku gak kenal banyak senior karena malu untuk terbuka dan mengakrabkan diri dengan mereka. Ini yang paling aku sesali, padahal mereka bisa jadi relasi yang baik. 

Di semester 5 aku udah mulai ngerasa percaya diri, dan aku mempraktekannya dengan teman-teman KKN (dari berbagai fakultas), dan hasilnya pun memuaskan! Mereka nerima aku dengan baik =)
Setelah masa-masa KKN aku sadar betul, semakin dewasa orang-orang, semakin mereka menghargai perbedaan dan 'keunikan' orang lain. Disana, aku mulai ngebuka diri. Mulai enjoy dengan orang baru, ngeluarin diri aku sendiri ke lingkaran sosial baru itu.
Nah ini yang ngebuat aku 'jago tandang' di kampus. Bisa sok asik sama anak-anak luar fakultas, tapi sama anak fakultas sendiri yang akrab bisa dihitung jari =))

Selain itu, aku yang sekarang pun mulai perhatiin penampilan, karena aku sadar appearance does matter. Orang yang gak sempet kenalan sama pribadi kamu, mau gak mau nilai kamu dari penampilan kan? Penampilan yang baik juga bakal nge-boost confidence kamu di depan orang-orang.

Ditambah, aku udah mulai ngeh sama apa yang harus aku bicarain dengan orang baru. Tanyain hobi mereka, kepoin, buat diri aku jadi tertarik dengan mereka. Dengarkan mereka dengan tulus, dengan begitu mereka pasti akan respek balik. Itu semua awalnya aku baca dari bukunya Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People), namun baru aku praktekin 2 tahun setelah aku baca =)).

Pergeseran kepribadian aku dari yang ;takut sama orang' jadi ke 'hobi ketemu orang baru' emang cukup kerasa akhir-akhir ini. Dan ini perubahan yang sangat, sangat baik. Aku ngerasa bangga sama diri sendiri, bisa sampai ke tahap ini hehe..

Jadi begitulah curhatan hari ini. Meaningless mungkin, tapi semoga ada manfaatnya meskipun dikit. hehehe.

Adios!

Sunday, March 27, 2016

Ayo Nulis!

Dulu, banyak hal yang aku lakuin untuk mengalihkan masalah aku. Mulai dari main game, browsing, tidur, olahraga, dll. Semua itu belum sempurna buat ngilangin beban pikiran. Memang sih aku lupa untuk sementara waktu, tapi setelah kegiatan itu selesai, aku ingat lagi.

Lalu, aku nemuin suatu kegiatan yang ampuh banget ngilangin stress dari segala masalah. Berdoa. Merenung. Intropeksi diri.
Ketiga hal itu bikin aku benar-benar tenang. Pikiran aku lebih rileks dan aku merasa lega. Lega banget.

Baru-baru ini aku nemuin satu lagi cara ampuh untuk nyempurnain pengurangan beban pikiran aku. Nulis. Yang aku sadari semenjak mulai bikin blog ini.

Dengan menulis, segala uneg-uneg dan ide aku tercurahkan dan rasanya lega sekali.

Selain itu, aku bisa nyuarain apapun yang ada di pikiran aku, dalam bentuk yang bisa ditangkap semua orang. Segala masalah beserta renungan yang aku dapat selama proses itu, aku tuangin ke dalam tulisan dan apabila ada yang baca, dia bisa memahami dan mengambil pelajaran dari masalah aku. Selain dia bisa melihatnya dari sudut pandang diluar sudut pandangnya sendiri, dia bisa 'merasakan' pengalaman-pengalaman aku tanpa perlu mengalaminya.
Kenapa aku tahu? Karena aku juga merasakannya ketika membaca cerita orang lain.

Contohnya, saat aku membaca sebuah buku semi-otobiografi Sukarno yang ditulis oleh Cindy Adams. Buku itu ditulis berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Bung Karno pasca menjabat sebagai presiden RI.

Penuturan penulis di dalam buku itu benar-benar mengekspresikan emosi dan perasaan Bung Karno. Terasa seperti membaca novel.

Pengalaman membacanya, tidak seperti seperti membaca biografi lain yang terasa kaku dan membosankan (terutama bagi yang kurang tertarik dengan sejarah), buku ini seperti ditulis dengan hati. Kita dibawa kembali ke jaman perjuangan, kita dibawa ikut marah dengan pemerintah kolonial Belanda yang semena-mena memperlakukan nenek moyang kita. Kita merasakan sedih, kecewa, marah, senang yang sama seperti yang dirasakan Bung Karno dalam cerita tersebut.

Seperti itu, keajaiban menulis bagi aku.
Jadi, ayo mulai menuliss₩ =)

Nikmati Setiap Detik Hidup Kamu

Tulisan ini bukan bermaksud buat nyeramahin siapapun, ini cuma apa yang aku rasain selama hidup aku dan aku rasa ada hal-hal yang bisa dipelajari dari apa yang aku rasain ini.

Pernah gak sih kamu lagi beraktivitas, tau-tau kepikiran "kok gue udah kuliah lagi ya? Perasaan baru kemaren daftar masuk SMA."
Yup. aku sering sekali ngerasain hal yang sama.
Entah kenapa rasanya waktu kerasa begitu cepat. Sekejap mata.

Aku pun masih ingat memori-memori semasa TK, waktu pertama belajar baca, mewarnai, nari pakai lagu kosidah di panggung perpisahan =))
Gak tahu kenapa, rasanya baru kemarin aku ngalamin itu semua.

Dan byarr, tau tau aku udah segede ini. Anak 20 tahun-nyaris 21. Sudah bisa tinggal sendiri, sudah dilepas sama orang tua, dikasi kepercayaan yang cukup banyak. Bisa jadi lebih baik ngendaliin emosi dan keinginan.
Aku tahu, banyak banget pahit manis hidup yang aku alami sebelum menjadi pribadi seperti sekarang. Di umur ke 20 ini, aku sadar, bahkan pengalaman buruk pun, itu ngebentuk diri banget.
Aku yang dulunya sering mengeluh karena segala masalah yang datang, jadi bersyukur pernah ngalamin itu semua.

Masalah udah ngebentuk pribadi aku.

Dan tanpa masalah, aku akan tetap jadi anak kecil. Gak dewasa-dewasa.

Balik lagi ke masalah waktu. Cepatnya waktu berjalan, bikin aku sering banget bernostalgia.

Waktu SMA enak ya, gak punya banyak tanggung jawab.
Waktu SMP enak ya, belum banyak pikiran.
Waktu SD enak ya, punya sahabat.

Semakin dikenang, semakin sedih dan ingin balik lagi.

Tapi setelah aku pikir ulang, kenapa gak nikmati hidup yang sekarang aja, daripada terus mengenang masa lalu?
Toh di masa depan pun aku bakal kangenin masa-masa ini =)
Mungkin, mungkin waktu berlalu terlalu cepat karena di setiap waktu yang aku lalu, aku selalu mengeluh, lupa menikmati hal-hal yang sedang aku alami.

Aku percaya, setiap masa ada enak dan ada gak enaknya kok. Sama seperti semua hal di dunia ini. Ada sisi positif dan negatifnya. Yin dan yang. Hitam dan putih.

Jadi, sangat sayang sekali untuk menghabiskan waktu dengan mengeluh.
Keluar kosan, cari hal baru. Lupakan sejenak masalah yang aku tanggung.
Toh dipikirin terus juga gak akan jadi selesai.

Nikmati hidup, karena kita cuma punya jatah satu kali =)

Keep spirit!

Living A (Single) Fun Life

Hola!

Sebenernya awalnya aku pikir bakal awkward banget ngomongin love life sendiri di public diary kaya gini (itu juga kalau ada yang baca.. hehehe) . But I have a point on my writing, so I'll just post everything here.

There's a saying; "Love happens when you least expect it." 
Dan itu cukup ngewakilin apa yang terjadi sama aku setahun yang lalu. Ketika lagi gak kepikiran tentang itu, dia tahu-tahu datang. 

I've never had any boyfriend till I got 19. Yes. 19.

I was a real geek back then. Buta fashion, gak pernah pakai lipstick dan bahkan gak bisa pakai eyeliner. 
Buku dan laptop (beserta internetnya) itu bener-bener jadi pacar yang setia dikala senang dan sedih.
Tanpa pernah ngerasain punya romantic-relationship, aku bener-bener enjoy dan bahagia dengan segala hobi aku ini. Kenapa bahagia? Karena aku punya teman-teman (yang sama-sama single xD) dan aku ngerasa cukup dengan diri aku sendiri.

Dan ketika aku 'ditampar' sama 'badai cinta', dunia pada awalnya emang kerasa indah banget. Bukan yang pertama emang, cuma orang kedua yang dateng di hidup aku ini yang bener-bener 'nampar' aku. 

That feeling was new to me. I got excited. Maybe way too excited.
Aku benar-benar numpahin semuanya ke dia. Aku jatuh banget. Bener-bener jatuh.
Sampai aku mau nurutin kemauan dia buat berubah sesuai dengan 'versi cewek' yang dia suka. Pakai baju cewek, simpen sneakers di lemari, beli peralatan make-up, olahraga dan diet mati-matian demi kurus. Semua buat dia. 

Yup, Aku gila akan dia.
Aku nge-adore dia, aku sayang sama dia. 
Sampai aku lupa sayang sama diri sendiri. Dan hidup jadi 'si cewek yang dia suka'.
Well, emang gak semua yang dia suruh itu buruk, Ada banyak yang bisa aku ambil pelajaran, dan bikin aku keren tentunya. hehe. 
Dan selama hubungan itu berlangsung, aku bener-bener bergantung sama dia. Semua yang aku lakuin pasti aku tanya dulu ke dia.

Sampai beberapa bulan kemudian dia pergi dari aku. Dengan berbagai alasan yang aku yakin bukan alasan yang sebenarnya, dia pergi gitu aja. 

Pertama kalinya patah hati. Bener-bener kaya orang sakau. 
Gak nafsu makan, gak bisa tidur, gak bisa sendirian.. Sepi. Biasanya ada yang nasehatin, biasanya ada yang marah-marahin, biasanya ada tempat berkeluh kesah, tau-tau hilang. Sepi,

Aku ngerasa kehilangan arah. Seakan-akan dia tuh rumah aku, dan rumah aku lenyap. Puk. Tiba-tiba jadi homeless.
Berhari-hari aku nangisin dia. Berharap dia balik lagi, tapi nyatanya engga.
Diet dan olahraga aku berhenti, toh semua dilakuin demi dia, bukan demi diri sendiri.

Aku butuh waktu yang lama sekali untuk pulih. Mungkin beberapa bulan. Selama itu aku ketemu orang lain, yang untungnya bisa ngeboost confidence aku, dia orang yang ngebalikin aku jadi 'aku yang dulu' dengan wejangan-wejangannya. Mungkin memang pada akhirnya orang ini pun bikin aku nangis, tapi aku gak akan menyalahkan dia. Malah terima kasih, udah ngasi manfaat di hidup aku =)

Bisa dibilang masa itu adalah masa-masa terbodoh dalam hidup aku, dimana aku sibuk nangisin orang lain (yang gak peduli sama aku juga). Awal bulan Maret ini pun aku mulai membenahi pikiran. 

Hidup gak cuma soal cinta.

Aku mencoba mengingat-ingat bagaimana aku hidup sebelum dia datang. Bagaimana bahagianya sendiri. Bahagianya cekikikan sendiri baca komik dan novel.

Aku mulai mencoba hal-hal baru, mulai dari ikut beladiri baru (selain karate) yang bagi aku asing banget. Beladiri lokal ini ternyata gak jauh beda sama karate; sama kerennya =)
Disana aku ketemu teman-teman baru. Ada teman yang ngajak hal baru lain disana; jogging keliling kampus. Dan meskipun capek banget pada awalnya (karena badan selalu dipake males-malesan), pada ke-dua kalinya aku ngerasain asiknya. Gimana ngehirup udara pagi, gimana aftertaste dari lari itu sendiri. Segerrr! =)
Ketagihan dan bakal bikin itu jadi kebiasaan (semoga).

Aku juga mulai belajar bahasa baru, saat ini aku sedang belajar bahasa Spanyol. Kenapa Spanyol? Nggak tahu, tiba-tiba kepengen aja =)

Lalu, aku bakal luangin waktu lebih banyak untuk baca buku. Seperti dulu-dulu. Kembali jadi geek, kembali ke 'dunia aku'. Aku juga bakal mencoba nulis. Biar hidup ini lebih produktif sedikit lahh =).

Dan terakhir, aku mau fokus untuk tugas akhir tentunya. Biar cepat lulus dan cepat dapat penghasilan sendiri. Hehehe.

Jadi, inti dari tulisan ini adalah, untuk temen-temen yang sempet ngerasa sepi kaya aku, gak usah sedih jadi single, banyak yang bisa kamu lakuin sebagai single. Hidup ini indah, jangan dipakai galau-galau terus ah =))


Nisrina Salma © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.