Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Monday, March 13, 2017

Diskusi: Membatu atau Melebur?



Pernahkah teman-teman melihat perdebatan di kolom komentar sosial media yang seringkali berujung hinaan dan makian?

Saya sering.

Kejadian dimana dua individu berusaha mempertahankan argumen masing-masing, namun ketika merasa sudah di ujung tanduk, kegagalan logika berpikir terjadi dalam segala bentuknya. Penyerangan akan pribadi pembawa argumen hingga menyambung-sambungkan peristiwa yang sebenarnya tidak berkaitan menjadi jalan pilihan. Apakah kegiatan seperti ini bermanfaat untuk dilakukan?

Berdebat memang terkadang diperlukan untuk memperdalam masing-masing sudut pandang, namun masalah tak terpecahkan dan setiap pihak tetap membeku di masing-masing posisi. Melalui diskusi, kedua ide yang berlawanan tersebut dapat dipadukan menjadi ide yang baru yang berupa hasil peleburan kedua ide sebelumnya. Tan Malaka dalam bukunya menjelaskan konsep dialektika Hegel berupa tesis-antitesis-sintesis, dimana ketika suatu ide eksis (tesis) dikritik dengan suatu ide lain yang bertentangan (antitesis), maka muncullah sintesis yang merupakan peleburan kedua ide tersebut. Immanuel Kant memiliki pandangan yang merupakan bentuk sintesis dari ide kaum rasionalis (bahwa pengetahuan manusia adalah hasil kerja akal) dengan kaum empiris (bahwa pengetahuan manusia bersumber dari apa yang kita rasakan melalui indra). Kant menyatakan bahwa konsep manusia tentang dunia ditentukan oleh akal maupun juga pengalaman yang dirasakan indra manusia.

Perlu kita ingat bahwa ideologi bangsa kita, Pancasila, merupakan hasil peleburan ketiga ideologi yang memiliki kekuatan besar dimasa revolusi kemerdekaan; nasionalisme, Islamisme serta komunisme. Para tokoh di masa itu juga melakukan diskusi demi menentukan apa cita-cita dan identitas bangsa yang paling sesuai dengan Indonesia. Bagaimana bila mereka terus berdebat? Tentu bangsa kita akan terus terpecah belah dan terhambat untuk mulai berkembang.

Meski perdebatan tidak menghasilkan satu pemecahan masalah, bukan berarti pertentangan ide menjadi tidak penting. Perselisihan pendapat merupakan sumber daya utama dalam sebuah diskusi. Seperti yang telah dipaparkan di atas, pembentukan sintesis diawali dari pertentangan antara dua ide.

Diskusi sebaiknya dilakukan dengan kepala dingin dan hati yang teduh. Membawa emosi menggebu-gebu kedalamnya hanya akan menyakiti diri sendiri dan lawan bicara. Sebelum diskusi, akan lebih baik bila kita menyiapkan diri bukan hanya untuk berbicara dan meyakinkan orang lain, tapi juga mendengarkan dengan hikmat. Kompromi dan menghargai pandangan orang lain adalah hal yang dirasa harus dimiliki pelaku diskusi. Tidak ada salahnya menutup sebentar pintu ego dalam hati kita dan mengakui kesalahan-kesalahan kita.  Sikap dalam diskusi ini sangat akan menentukan hasil yang akan didapat.

Hal tersebut dapat dicapai apabila kita telah menelusuri dan memahami berbagai pendapat yang saling bertentangan. Pada satu titik, akan tercapai suatu kesimpulan bahwa suatu permasalahan yang sama dapat menjadi terlihat benar-benar berbeda dengan kacamata yang lain. Perbedaan pandangan ini apabila ditelaah lebih lanjut dapat memunculkan suatu pencerahan baru.

Apabila kita memang menginginkan partner diskusi kita menjadi yakin akan pendapat kita, lakukan dengan cara yang tepat. Menurut Dale Carnegie, memaparkan ide sambil menyerang ide orang lain hanya akan membuat ego lawan bicara terluka dan semakin mempertahankan idenya sendiri. Cara terbaik agar orang lain dapat menerima ide kita adalah dengan membuat mereka merasa ide tersebut berasal dari kepalanya sendiri. Buat mereka berpikir dengan mengarahkannya pada ide yang ingin kita sampaikan.

Contohnya ada pada salah satu ceramah Aa Gym terkait pemimpin non-muslim. Aa Gym tidak secara gamblang menyatakan bahwa seorang muslim dilarang memilih pemimpin beragama lain, namun beliau mengemasnya dengan memaparkan kasus Ahok ini dan menekankan bahwa hal tersebut adalah bukti bila kita tidak memilih pemimpin muslim. Beliau berkata seorang pemimpin yang bukan muslim tidak akan dapat merasakan apa yang kaum muslim rasakan, hingga kejadian seperti ini dapat terjadi. Pada bagian akhir, Aa Gym berkata, pilihan untuk memilih pemimpin kembali pada pertimbangan masing-masing individu.

Alangkah baiknya bila kita tidak melupakan sikap-sikap penting seperti yang sudah dipaparkan di atas dalam berdiskusi. Manfaat yang disarikan dalam kegiatan tersebut dapat semakin tinggi apabila dilakukan dengan cara yang benar.

Sebagai mahasiswa yang telah dibekali keilmuan lanjutan, sudah semestinya kita bersikap seperti selayaknya. Mari berdiskusi produktif!



Bahan bacaan:
Carnegie, Dale. 1936. Bagaimana Mencari Teman dan Mempengaruhi Orang Lain. Jakarta: Binarupa Aksara.
Gaarder, Jostein. 2014. Dunia Sophie. Bandung: Mizan.
Malaka, Tan. 2000. Dari Penjara ke Penjara. Jakarta: Teplok Press.

Saturday, July 2, 2016

Becoming A Geek?

Sedikit cerita dan 'pesan moral'nya 

Akhir-akhir ini aku ngerasa semakin kesini, semakin aku ngerasa kosong, dimana teman dekat tak lagi sedekat jaman sekolah, keluarga sibuk dengan kegiatan masing-masing, kegiatan organisasi sudah berkurang dan akademik gak sesibuk semester awal. 

Dengan keadaan ini, aku berpikir kalau ini lah saat yang tepat untuk mengeksplor diri, mencari hal baru, ngembangin hobi, mencari lebih banyak teman dan relasi. Aku masih muda dan belum sibuk.

Banyak hal baru yang mulai aku lakuin mulai dari belajar bahasa Spanyol (yang sampai saat ini belum lanjut), belajar main Bridge (di UKM Unpad), belajar main gitar, ikutan beladiri baru, ikutan kopi darat berbagai komunitas di internet, dan banyak hal lain yang akan aku lakukan.

Selain hal yang disebutkan diatas, aku selingi dengan baca novel-novel thriller (yang menjadi favorit aku di masa-masa semester 6), marathon serial barat, chit-chat sama beberapa virtual friends.
Sampai pada saat dimana aku ketemu temen di satu komunitas yang hobi baca buku non-fiksi. 

Aku pernah jadi seorang book-geek yang hobi baca dan belajar waktu SMA (yang berbuah hasil bagus secara akademik). Konten yang aku baca seputar ilmu sosial (filsafat, ekonomi, politik, sejarah, dll.) yang baru aku baca kulit-kulitnya aja.

Ketika bertemu teman yang juga senang membaca buku non-fiksi, aku cukup terpacu untuk kembali meneruskan hobi membacaku (yang sempat terhenti selama masuk kuliah) setelah berdiskusi mengenai berbagai topik dengannya. 

Dia merekomendasikan aku beberapa buku menarik yang meskipun belum aku tamati, memberikan semangat baru bagiku untuk mulai membaca lagi.

Aku tipe pembaca non-fiksi yang gak langsung namatin satu buku-satu buku, tapi membaca beberapa buku dalam satu waktu secara bergantian (maklum, bosenan :p). Saat ini aku sedang membaca beberapa buku sejarah dan biografi, serta filsafat. Buku-buku ini memberikanku banyak sekali pandangan baru, informasi baru serta pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya gak pernah muncul di kepalaku (karena sibuk galau :p).

Aku berpikir membaca novel memang menyenangkan, namun membaca non-fiksi sungguh dapat melatih otakku untuk terus bertanya, berpikir terus, namun tetap terbuka terhadap segala pandangan baru. Aku dapat merasakan sudut pandang baru, bahkan sudut pandang orang yang selama ini aku anggap sangat berdosa. 

Saat-saat menjadi geek memang hal-hal paling indah dalam hidupku. Tidak perlu bergantung pada orang lain untuk mengatasi kebosanan, atau kesepian. Dengan buku-buku, pikiranku tak pernah sepi. Tak ada ruang dalam otakku untuk merasa kesepian, karena kepalaku selalu ditemani pertanyaan-pertanyaan, throwback sejarah, hingga imajinasi-imajinasi.

Hal ini tentu sangat membantu seorang yang sangat sulit mendapat banyak teman sepertiku untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif akibat kurangnya interaksi dengan orang lain.

Well, it turns out that being a geek isn't that bad at all. 

Tuesday, March 29, 2016

'Caleuy' yang Sebenarnya Nyusahin, tapi...

Setiap orang punya level konsentrasi dan fokus yang berbeda-beda. Sebagian orang yang tidak terlalu bagus konsentrasinya, terkadang memang terlihat 'bego' dari luar. Sayangnya, aku salah satu dari sebagian orang itu.
Kebegoan aku yang terjadi karena kurangnya fokus itu biasa di daerah aku disebut caleuy, karena disebut bego, that would sound so meanie =((  Meskipun artinya sama aja.  Penghalusan bahasa lah intinya.

Banyak. Banyak banget kecaleuyan yang bikin sebagian orang yang ngeliatnya pun ikutan malu. Kalau malu aku sih kayanya udah ilang. Saking seringnya caleuy. Hahaha.
Mulai dari ketiduran di kursi kampus, jatuh dan bikin suara keras banget di kelas besar (sampai tiga kelas tahu aku jatuh). Saat itu aku malu banget sebenernya, cuma momen itulah yang bikin malu aku hilang di kampus. Bodo amat, udah pernah semalu itu jadi udah maksimum gitu. Ibarat termometer, air raksanya udah full dan jebol =))
Caleuy-caleuy kecil pun banyak terjadi, contohnya seperti nabrak pintu kaca, nyari-nyari barang padahal barangnya di depan mata, sampe gak nyambung kalau ngobrol sama orang lain.

Memang sepintas hal ini bikin aku sangat kesulitan. Pekerjaan jadi sedikit terhambat (karena loading lama), sering dapat momen memalukan, dan sering bingung sendiri. Tapi ternyata hal yang bisa dibilang kurang baik ini sebenernya bisa dijadikan 'kelebihan' aku.

Gimana bisa jadi kelebihan?
Bisa, caleuy ini bisa jadi keunikan aku di lingkaran sosial. Ini bisa jadi nilai jual ke teman-teman baru. Ada sebagian orang yang jago bikin jokes, ada yang emang jago pendekatan interpersonal, ada yang punya banyak pengetahuan, sehingga mereka bisa narik teman-teman baru untuk tertarik dengan dia, atau mereka bisa bergabung di grup baru dengan 'senjata-senjata' itu.
Terkadang, kecaleuyan ini bisa mendekatkan aku dengan teman-teman baru. Memang sih mereka bakal nge-bully aku, tapi ya seperti itu lah tandanya orang yang udah akrab, tega saling nge-bully =)

Jadi buat kamu yang punya satu kekurangan yang sangat sulit diubah dan gak merugikan orang lain, coba pikirkan baik-baik, siapa tahu ada cara untuk kamu membuatnya jadi suatu kelebihan =)

Making New Friends is Fun!

Dunia perkuliahan yang telah aku jalanin selama tiga tahun ini, banyak banget ngasi pembelajaran buat aku.

Selain di bidang akademis, aku juga ngerasa dapat pembangunan karakter diri dari kampus. Aku jadi orang yang jauh lebih 'keren'. Darimana dapatnya? Organisasi, teman-teman kampus, komunitas, bahkan seminar motivasi atau leadership yang diadain kepanitian kampus pun berperan penting.

Contoh kecilnya adalah perbandingan di jaman aku SMA dengan sekarang. Ingat 4 tahun yang lalu, ketika aku masih pakai putih abu, aku ikut acara sebuah komunitas Running Man di Bandung. Ya, Running Man yang itu. Dulu di Bandung ada yang bikin gathering dan main game rame-rame. 
Seru sih, tapi dulu aku sangat kesulitan berinteraksi dengan orang baru. Dan itu menjadi kendala yang bener-bener menganggu. 

Setiap masuk ke lingkungan baru, aku yang dulu selalu diam diri. Gak bisa nyesuain diri, dengan lingkungan apapun. Aku gak punya kepercayaan diri buat sok deket atau bahkan nunjukin diri aku di hadapan 'calon-calon teman' itu. Takut penolakan, takut dicuekin, takut dianggep freak, dan sebagainya. 

Aku masih dibayangin kehidupan SMP yang penuh sinisme dan looking-down at people trend. Yes, my middle-school's life was horrible. I had been bullied verbally by people around me. Kenapa? Mungkin aku yang dulu freak, beda sendiri, hobinya geek abis, aku item, kurus, jerawatan gak ngerawat diri. ((Yaiyalah, masih SMP juga, masa bocah kudu dandan centil -..-))
Meningat pengalaman di SMP, aku dulu selalu berpikir kalau orang-orang baru itu mengerikan, dan bakal 'nolak' aku di lingkaran sosial mereka. 

Aku pun di masa-masa awal perkuliahan masih cupu banget. Aku gak kenal banyak senior karena malu untuk terbuka dan mengakrabkan diri dengan mereka. Ini yang paling aku sesali, padahal mereka bisa jadi relasi yang baik. 

Di semester 5 aku udah mulai ngerasa percaya diri, dan aku mempraktekannya dengan teman-teman KKN (dari berbagai fakultas), dan hasilnya pun memuaskan! Mereka nerima aku dengan baik =)
Setelah masa-masa KKN aku sadar betul, semakin dewasa orang-orang, semakin mereka menghargai perbedaan dan 'keunikan' orang lain. Disana, aku mulai ngebuka diri. Mulai enjoy dengan orang baru, ngeluarin diri aku sendiri ke lingkaran sosial baru itu.
Nah ini yang ngebuat aku 'jago tandang' di kampus. Bisa sok asik sama anak-anak luar fakultas, tapi sama anak fakultas sendiri yang akrab bisa dihitung jari =))

Selain itu, aku yang sekarang pun mulai perhatiin penampilan, karena aku sadar appearance does matter. Orang yang gak sempet kenalan sama pribadi kamu, mau gak mau nilai kamu dari penampilan kan? Penampilan yang baik juga bakal nge-boost confidence kamu di depan orang-orang.

Ditambah, aku udah mulai ngeh sama apa yang harus aku bicarain dengan orang baru. Tanyain hobi mereka, kepoin, buat diri aku jadi tertarik dengan mereka. Dengarkan mereka dengan tulus, dengan begitu mereka pasti akan respek balik. Itu semua awalnya aku baca dari bukunya Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People), namun baru aku praktekin 2 tahun setelah aku baca =)).

Pergeseran kepribadian aku dari yang ;takut sama orang' jadi ke 'hobi ketemu orang baru' emang cukup kerasa akhir-akhir ini. Dan ini perubahan yang sangat, sangat baik. Aku ngerasa bangga sama diri sendiri, bisa sampai ke tahap ini hehe..

Jadi begitulah curhatan hari ini. Meaningless mungkin, tapi semoga ada manfaatnya meskipun dikit. hehehe.

Adios!

Sunday, March 27, 2016

Ayo Nulis!

Dulu, banyak hal yang aku lakuin untuk mengalihkan masalah aku. Mulai dari main game, browsing, tidur, olahraga, dll. Semua itu belum sempurna buat ngilangin beban pikiran. Memang sih aku lupa untuk sementara waktu, tapi setelah kegiatan itu selesai, aku ingat lagi.

Lalu, aku nemuin suatu kegiatan yang ampuh banget ngilangin stress dari segala masalah. Berdoa. Merenung. Intropeksi diri.
Ketiga hal itu bikin aku benar-benar tenang. Pikiran aku lebih rileks dan aku merasa lega. Lega banget.

Baru-baru ini aku nemuin satu lagi cara ampuh untuk nyempurnain pengurangan beban pikiran aku. Nulis. Yang aku sadari semenjak mulai bikin blog ini.

Dengan menulis, segala uneg-uneg dan ide aku tercurahkan dan rasanya lega sekali.

Selain itu, aku bisa nyuarain apapun yang ada di pikiran aku, dalam bentuk yang bisa ditangkap semua orang. Segala masalah beserta renungan yang aku dapat selama proses itu, aku tuangin ke dalam tulisan dan apabila ada yang baca, dia bisa memahami dan mengambil pelajaran dari masalah aku. Selain dia bisa melihatnya dari sudut pandang diluar sudut pandangnya sendiri, dia bisa 'merasakan' pengalaman-pengalaman aku tanpa perlu mengalaminya.
Kenapa aku tahu? Karena aku juga merasakannya ketika membaca cerita orang lain.

Contohnya, saat aku membaca sebuah buku semi-otobiografi Sukarno yang ditulis oleh Cindy Adams. Buku itu ditulis berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Bung Karno pasca menjabat sebagai presiden RI.

Penuturan penulis di dalam buku itu benar-benar mengekspresikan emosi dan perasaan Bung Karno. Terasa seperti membaca novel.

Pengalaman membacanya, tidak seperti seperti membaca biografi lain yang terasa kaku dan membosankan (terutama bagi yang kurang tertarik dengan sejarah), buku ini seperti ditulis dengan hati. Kita dibawa kembali ke jaman perjuangan, kita dibawa ikut marah dengan pemerintah kolonial Belanda yang semena-mena memperlakukan nenek moyang kita. Kita merasakan sedih, kecewa, marah, senang yang sama seperti yang dirasakan Bung Karno dalam cerita tersebut.

Seperti itu, keajaiban menulis bagi aku.
Jadi, ayo mulai menuliss₩ =)

Nikmati Setiap Detik Hidup Kamu

Tulisan ini bukan bermaksud buat nyeramahin siapapun, ini cuma apa yang aku rasain selama hidup aku dan aku rasa ada hal-hal yang bisa dipelajari dari apa yang aku rasain ini.

Pernah gak sih kamu lagi beraktivitas, tau-tau kepikiran "kok gue udah kuliah lagi ya? Perasaan baru kemaren daftar masuk SMA."
Yup. aku sering sekali ngerasain hal yang sama.
Entah kenapa rasanya waktu kerasa begitu cepat. Sekejap mata.

Aku pun masih ingat memori-memori semasa TK, waktu pertama belajar baca, mewarnai, nari pakai lagu kosidah di panggung perpisahan =))
Gak tahu kenapa, rasanya baru kemarin aku ngalamin itu semua.

Dan byarr, tau tau aku udah segede ini. Anak 20 tahun-nyaris 21. Sudah bisa tinggal sendiri, sudah dilepas sama orang tua, dikasi kepercayaan yang cukup banyak. Bisa jadi lebih baik ngendaliin emosi dan keinginan.
Aku tahu, banyak banget pahit manis hidup yang aku alami sebelum menjadi pribadi seperti sekarang. Di umur ke 20 ini, aku sadar, bahkan pengalaman buruk pun, itu ngebentuk diri banget.
Aku yang dulunya sering mengeluh karena segala masalah yang datang, jadi bersyukur pernah ngalamin itu semua.

Masalah udah ngebentuk pribadi aku.

Dan tanpa masalah, aku akan tetap jadi anak kecil. Gak dewasa-dewasa.

Balik lagi ke masalah waktu. Cepatnya waktu berjalan, bikin aku sering banget bernostalgia.

Waktu SMA enak ya, gak punya banyak tanggung jawab.
Waktu SMP enak ya, belum banyak pikiran.
Waktu SD enak ya, punya sahabat.

Semakin dikenang, semakin sedih dan ingin balik lagi.

Tapi setelah aku pikir ulang, kenapa gak nikmati hidup yang sekarang aja, daripada terus mengenang masa lalu?
Toh di masa depan pun aku bakal kangenin masa-masa ini =)
Mungkin, mungkin waktu berlalu terlalu cepat karena di setiap waktu yang aku lalu, aku selalu mengeluh, lupa menikmati hal-hal yang sedang aku alami.

Aku percaya, setiap masa ada enak dan ada gak enaknya kok. Sama seperti semua hal di dunia ini. Ada sisi positif dan negatifnya. Yin dan yang. Hitam dan putih.

Jadi, sangat sayang sekali untuk menghabiskan waktu dengan mengeluh.
Keluar kosan, cari hal baru. Lupakan sejenak masalah yang aku tanggung.
Toh dipikirin terus juga gak akan jadi selesai.

Nikmati hidup, karena kita cuma punya jatah satu kali =)

Keep spirit!

Wednesday, March 9, 2016

Quotes and Poems



Like most of youngsters in this country, I read my social media's timeline more than textbooks (LOL).

As far as I observed, there're sooo many accounts that share quotes with various kind of topic; love, desperation, motivation, anger, and all other things that express our feelings.
This doesn't matter to me. Some of them can even be categorized as good poets too. But there're some people who think that these quotes are giving teenangers bad effect, for instance when a-sad-mentally-unstable-teen read one of those desperate quotes on his timeline, it might make him being sadder than before, decide to harm others (because of his sadness) or even kill himself.

Some people also said quotes on social media make teens hungry for love. Well, this depends on each person's personality. There're some teens that are so easy to get desperate, some others aren't.

Looking at this, we should've thought carefully befote we absorb those words into our heart. We should've realized that those words aren't real. Those aren't what we really feel. It was dramatized.

I, personally, kinda like those quotes on my timeline. Not all, but some of them are beautiful. Sometimes I can feel somebody's pain even without experience her trouble.

For me, people who enjoy quotes and poems are very very romantic and warm.

Nisrina Salma © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.